Suatu Study comperatif Vs<br /><center><br /> <form action=”http://www.google.com/search” name=”f”><center><br /> <input maxlength=”256″ name=”q” size=”30″> <input value=”Google Search” name=”btnG” type=”submit”></center></form> <p></center>

Psikologi Barat Akadmik

Terbatasnya pengetahuan para teoritikus kepribadian Barat tentang struktur internal manusia telah melahirkan banyak mazhab kepribadian. Kerangka keilmiahan telah membatasi mereka dalam proses analisis dan sintesis konsepsi kepribadian manusia seutuhnya. Carl Gustav Jung melakukan terobosan dalam membangun psikologi analitiknya, ia melibatkan data-data mitologi dan simbol-simbol agama ke dalam kerangka analisis ilmiahnya. Dalam alur ini, Kecerdasan Spiritual (SQ) dalam proses perumusannya tidak sekadar meninjau keparalelan antara produk saintifik Barat dengan fenomena mistik Timur, tapi tampak memaksakan melakukan interpretasi atas fenomena metafisik spiritual secara fisika dan sains neural, dan ini melahirkan sejumlah paradoks. Paper ini membahas tentang struktur internal manusia berdasarkan kerangka acuan Al-Qur’an, kemudian akan dilihat persoalan apa yang tersentuh oleh konsepsi individuasi Jung dan status SQ dalam peta ini.

1.Pendahuluan

Terumuskannya sejumlah teori kepribadian merupakan cermin dari upaya ilmiah manusia untuk memahami dirinya sendiri secara menyeluruh. Dewasa ini dikenal tiga teori utama yang satu dengan yang lainnya berbeda, yakni teori kepribadian Psikoanalisa (Freud), teori kepribadian Behaviorisme (Skinner), dan teori kepribadian Humanistik (Maslow)[1]. Istilah kepribadian (personality) memiliki banyak arti, ini disebabkan oleh adanya perbedaan dalam penyusunan teori, penelitian, dan pengukurannya. Di antara para psikolog belum ada kesepakatan tentang arti dan definisi “kepribadian”, sehingga banyaknya definisi kepribadian sebanyak ahli yang mencoba merumuskannya. Melihat asal katanya, personality itu sendiri berasal dari kata latin persona yang berarti topeng. Setiap penggagas kepribadian mengajukan asumsi-asumsi dasar tertentu tentang manusia, yang kemudian hipotesis-hipotesis tersebut mempengaruhi konstruksi dan isi dari teori kepribadian yang disusunnya. Abraham Harold Maslow (1908-1970) memperlihatkan komitmen yang tinggi terhadap anggapan dasar tentang manusia sebagai makhluk bebas, sementara Sigmund Freud (1856-1939) dan Burrhus Frederic Skinner (1904-1990) sebagai penganut determinisme berlawanan dengan Maslow, mereka berasumsi bahwa manusia bukanlah makhluk yang bebas melainkan organisme yang tingkah lakunya dideterminasi oleh sejumlah determinan.Freud menyatakan bahwa determinan manusia berasal dari dalam diri manusia itu sendiri (faktor internal), sementara Skinner menyatakan bahwa faktor-faktor penentu tersebut berasal dari stimulus-stimulus eksternal. Maslow berpendapat bahwa manusia itu makhluk rasional, sementara Freud berpegang pada anggapan dasar bahwa manusia merupakan makhluk yang cenderung irasional, dimana sebagian besar dari tingkah laku manusia didorong oleh kekuatan-kekuatan irasional yang tidak disadari; Skinner dalam hal ini tidak begitu terikat pada hipotesis rasional-irasional.Tentang motivasi, rumusan Freud bertumpu pada konsep homeostatis, yaitu suatu konsep yang diilhami oleh gagasan kesetimbangan (equilibrium) fisis Leibniz, ia menerangkan bahwa tingkah laku manusia terutama dimotivasi oleh upaya pengurangan tegangan-tegangan internal (memuncaknya energi naluri/insting dari id) yang terjadi akibat ketidakseimbangan fisis. Dalam hal ini Skinner berpendapat bahwa tingkah laku manusia tidak digerakkan oleh agen-agen internal yang disebut naluri, melainkan ditentukan oleh kekuatan-kekuatan eksternal. Freud dengan psikoanalisanya percaya bahwa misteri manusia akan bisa diungkap seluruhnya melalui upaya-upaya ilmiah, karena pada dasarnya tubuh manusia mengikuti hukum-hukum fisika; Skinner dan segenap behavioris memiliki anggapan yang sama dengan Freud. Berlawanan dengan pandangan di atas, Maslow sepaham dengan William James (1842-1910), seorang filsuf dan tokoh psikologi terkemuka Amerika, bahwa manusia tidak akan bisa diungkap sepenuhnya hanya melalui upaya-upaya ilmiah.

Pelibatan aspek ketaksadaran (unconsciousness) dalam psikoanalisa telah menarik minat Carl Gustav Jung (1875-1961) untuk bergabung dengan Freud. Mengikuti alur Freud, konstruksi dasar psikologi Jung juga sangat dipengaruhi oleh perkembangan sains dan filsafat Abad ke-19, seperti teori Evolusi Darwin, temuan-temuan arkeologis, dan studi komparatif tentang masyarakat dari budaya-budaya yang berbeda. Tetapi kemudian terjadi pertentangan mendasar antara kedua tokoh besar tersebut. Jung menolak penekanan Freud yang meletakkan dorongan seksual manusia di atas kebutuhannya terhadap makanan, kehidupan spiritual, atau pengalaman-pengalaman religius tertentu. Dia juga tidak sependapat dengan pandangan mekanistik Freud tentang dunia; bagi Jung, karekter manusia tidak hanya dikondisikan oleh apa-apa yang telah terjadi di masa lampau, tapi juga dipengaruhi oleh visi-visi masa depan. Adapun Freud tidak setuju dengan konsepsi Jung tentang collective unconscious, teori ini bertumpu pada pandangan phylogenetic tentang pengalaman-pengalaman masa lampau dari ras manusia yang diwariskan secara individual melalui memory traces.

Teori kepribadian Freud dan Jung mencakup seluruh aspek sadar dan tak sadar dalam diri manusia, untuk membedakan teorinya dengan psikoanalisa Freud, maka Jung menamai teori kepribadiannya dengan istilah psikologi analitik. Individuasi (realisasi diri) merupakan inti ajaran Jung, berkaitan dengan pergeseran titik pusat kesadaran dari ego ke self, dimana gagasan ini dibangun Jung secara transpersonal berdasarkan studi atas simbol-simbol mitologis dan simbol-simbol religius agama Barat maupun Timur. Dengan data-data tersebut, Jung berupaya mencari hubungan antara isi ketaksadaran dalam diri manusia di Barat dengan mite-mite dan ritus-ritus manusia primitif.

Dalam teori Jung, ketika konstruk ego yang terbangun mulai menyadari eksisnya sesuatu selain dirinya yang bersifat irasional, terjadilah konflik batin. Meningkatnya “entropi” psikis di ruang sadar akan direspon oleh permukaan subconscious, dan terjadilah aliran energi psikis (libido), yang arahnya ditentukan oleh prinsip ekivalensi “termodinamika”. Respon dari ‘lautan’ ketaksadaran akan menampakkan diri di level sadar umumnya berbentuk simbol-simbol mandala, yang pada prinsipnya membawa pesan tentang arah dari tertib diri. Dalam praktek klinisnya, Jung melihat bahwa bagian tak-sadar bukan saja bersifat komplementasi (saling melengkapi), tetapi juga kompensasi (saling mengimbangi). Menurut Jung, proses individuasi ini disebabkan oleh potensi-potensi asli yang mengarah pada tujuan tertentu, menuju ke suatu keutuhan psikis yang lebih kokoh. Energi psikis yang terarah pada suatu tujuan tertentu yang bersifat “final” ini mirip dengan pandangan teleologi Aristoteles (384-322 SM), dimana ia menggunakan istilah entelecheia (en=dalam diri manusia; telos=tujuan; echein=memiliki) yang berarti: di dalam diri sendiri terdapat sesuatu yang harus dicapai[2].

Dalam proses individuasi Jung, yang dititikberatkan bukanlah ego melainkan self. Jika Jung menggunakan data-data kejiwaan dalam banyak agama, maka apa hakikat sebenarnya dari ego dan self ini dipandang dari konsepsi batiniah agama seutuhnya? Apa status menjadi pribadi seutuhnya atau menjadi diri sendiri tersebut dipandang dari kerangka agama itu sendiri?

2. Struktur Insan Dalam Pandangan Qur’aniyah

Peta kejiwaan dan mekanisme interaksi antar modus-modus jiwa, dalam kerangka psikologi yang dibangun secara ilmiah, tampak tidak jelas dan banyak menyisakan lubang-lubang di sana sini. Dalam literatur barat sendiri penggunaan istilah-istilah seperti soul, spirit, heart, mind, dan intellect sering campur aduk ketika mengidentifikasi persoalan-persoalan yang bersentuhan dengan konsepsi kejiwaan.

Istilah psycho sendiri yang dipakai dalam konstruk kata psikologi (psychology) berasal dari kata Yunani psyché (Ynch) yang artinya “nafas kehidupan”, dalam mitologi Yunani digambarkan sebagai kupu-kupu. Dalam hal ini, kupu-kupu merupakan perlambang jiwa yang bebas terbang setelah menempa diri dengan “puasa”, keluar dari bungkus kepompongnya. Dua sayap kupu-kupu yang membawa dirinya terbang meninggalkan “bumi” melambangkan dua akal, akal jiwa dan akal raga; dua akal tersebut eksis secara potensial di dalam tubuhnya saat ia sebagai “ulat”, persoalan yang sama dalam representasi yang berbeda bisa dikaji dalam “Alegori Gua” Plato (428-347 SM)[3].

Dalam konsepsi pramodern, manusia dibagi atas tiga entitas, corpus, animus, dan spiritus[3]. Animus berasal dari bahasa Yunani anemos yang bermakna sesuatu yang hidup (bernafas) yang ditiupkan ke dalam corpus (wadah atau bungkus). Maka corpus adalah body (raga/jasad); dan spiritus adalah spirit (ruh); dan animus identik dengan psyche yang bermakna soul (jiwa/nafs). Dewasa ini istilah jiwa yang dipakai dalam psikologi telah mengalami penyempitan makna. Jiwa dalam terminologi psikologi modern lebih ke aspek psikis, dimana aspek psikis ini lebih merupakan riak gelombang permukaan di atas lautan dalam yang disebut jiwa. Fungsi ruh terhadap jiwa dan fungsi ruh terhadap jasad bisa dilihat dalam referensi[4].

Dalam terminologi Qur’aniyah, struktur manusia dirancang sesuai dengan tujuan penciptaan itu sendiri, dimana jiwa (soul) yang dalam istilah Al-Quran disebut nafs menjadi target pendidikan Ilahi. Istilah nafs didalam Islam sering dikacaukan dengan apa yang dalam bahasa Indonesia disebut hawa nafsu, padahal istilah hawa dalam konteks Qur’ani memiliki wujud dan hakekat tersendiri. Aspek hawa dalam diri manusia berpasangan dengan apa yang disebut sebagai syahwat. Sedangkan apa yang dimaksud dengan an-nafs amara bissu’ dalam surat (Yusuf [12]: 53) adalah nafs (jiwa) yang belum dirahmati Allah SWT:

“Dan aku tidak membebaskan nafsku, sesungguhnya nafs itu cenderung mengarah kepada kejahatan, kecuali yang dirahmati oleh Rabb-ku.”

Hawa merupakan kecenderungan kepada yang lebih bersifat non-material, yang berkaitan dengan eksistensi dan harga diri, persoalan-persoalan yang wujudnya lebih abstrak. Hawa merupakan entitas, produk persentuhan antara nafs dan jasad. Sedangkan syahwat merupakan kecenderungan manusia pada aspek-aspek material (AliImran [3]: 14), dan ini bersumber pada jasad insan yang wujudnya memang disusun berdasarkan unsur-unsur material bumi (air, tanah, udara, api). Nafs manusia diuji bolak-balik di antara dua kutub, kutub jasmaniah yang berpusat di jasad dan kutub ruhaniyah yang berpusat di Ruh al-Quds. Ar-Ruh ini beserta tiupan dayanya (nafakh ruh) merupakan wujud yang nisbatnya ke Martabat Ilahi dan mengikuti hukum-hukum alam Jabarut. Aspek ruh ini (jamak arwah) tetap suci dan tidak tersentuh oleh kelemahan-kelemahan material dan dosa, spektrum ruh merupakan sumber dari segala yang maujud di alam syahadah ini—maka tak ada istilah tazkiyyatur-ruhiyyah atau mi’raj ruhani.Al-Ghazali dalam Kitab Ajaaibul Qulub[5] jelas membedakan istilah-istilah seperti qalb (rasa jiwa, bukan rasa jasadiah/psikis), nafs, ruh, dan ‘aql; dimana istilah-istilah ini dalam konsepsi psikologi modern tak terpetakan dengan tegas karena berada pada tataran jiwa yang bersifat malakut, atau secara psikologi analitik berada di ruang ketaksadaran.Prinsipnya, apa yang disebut sebagai manusia sempurna (insan kamil) dalam terminologi Al-Qur’an, minimal manusia yang sudah memiliki struktur seperti tercantum dalam An-Nur [24]: 35, seorang Insan Ilahi. Manusia dikatakan sebagai khalifatullah (wakil Allah) di bumi jika ia telah mencapai state tersebut, ia membawa kuasa Allah dan bercitra Ar-Rahman.”Allah cahaya petala langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya bagaikan sebuah misykat yang didalamnya terdapat pelita terang. Pelita tersebut di dalam kaca, kaca itu seolah kaukab yang berkilau dinyalakan oleh (minyak) dari pohon yang banyak berkahnya, pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi walau tanpa disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa-siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (disarikan dari artikel Struktur Insan dalam Al-Qur’an : Apa yang Tersentuh Oleh Psikologi Analitik, dan Status Kecerdasan Spiritual (SQ) Posted by Herry @ 16:35 | in Pengetahuan Islam Dasar, Jurnal | e-mail this article | + to del.icio.us Oleh Zamzam A. Jamaluddin T dan Tri Boedi Hermawan, Yayasan Paramartha 3. Bagaimna Psikologi Al Quran dari Perpektif MSFQMendifinisikan kembali secara bebas apa itu psikologi , psikologi pada intinya ilmu yang berobye-kan tentang manusia dan kepribadian (behavior), jika ruang lingkup obyek psikologi tersebut disepakati, kama didifinikan bahwa psikologi Al Quran adaldari Aspek MSFQ adalah memetakan kepribadian (mapping code) berdasarkan variable didalam suatu juz.bilmana didekati dengan ilmu numericVariable al Quran adalah huruf, kumpulannya menjadi ayat, ,kumpulan ayat menjadi surat, kumpulan surat menjadi rukuk, kumpulan rukuk menjadi suatu juz.disinilah letak yang dijadikan dasar untuk memetakan kepribadian seseorang, asumsi tersebut dengan berdasarkan hipotesis

4. Hipotesis / Isyarat Khasanah Keilmuan Psikologi pada Al Quran

Dari 30 Juz yang terdapat di Al Quran ternyta antara satu juz dengan juz yang lain pasti ada perbedaan dan bahkan perbedaan unik sepertinya juz yang satu dengan juz yang lain pasti beda nomor halaman, beda kandungan jumlah ayat, beda makna yang di kandung dan beda-beda jumlah surat dan lain-lain.

Kata ” Al Juz.u ” jika diurai berjumlah 76 , jika angka tersebut dikorelasikan kepada nomor urut surat Al Quran akan ketemu nama surat al insane artinya manusia

Esensi Al Quan adalah tertdiri ayat,surat dan juz , tiga komponen itulah makna al quran bisa diterjemahkan makna kandungan yang diejarkan, karena ayatlah seseorang dapat memahami perintah atau larangan tuhan, begitu juz. Dari aspek difinisi ayat adalah aturan/isyarat /gejala/norma, surat banyak mengisyaratkan fenomena alam seperti asyam (matahari), al qomar bulan dan attien manusia. Jika ayat diartikan suatu system/aturan dan surat adalah fenomen atau obyek ,maka bilamana sudah ada system, obyek maka mana subyeknya, subyeknya itulah juz lalu apa korelasi juz dari aspek numeric jika dikorelasikan dengan nomor urut surat.

Diantara 114 surat yang terkandung didalam Al Quran ternyata jika dikelompokkan dalam tema-tema ternyata menggambarkan fitriati /kepribadian dan tentang sifat-sifat manusia seperti . dengan kata lain tema-tema surat-surat Al Qoran dipandang dari perpektif Psikologi akan menghasilan)

  • Tema Laki-laki dan perempuan ( Al imron dan An Nissa) (jenis kelmin)
  • Tema hidup (aktiviats)
  • Tema Kehancuran ( Al Waqiah dan Al Qoriah) (Siclus)
  • Tema Eksistensi seperti Keimanan (positif/eksistensi )
  • Tema Kemunafikan (Al Mukminun/Munafiqun) (Eksistensi-kelemahan)
  • Tema Kosmis (Obsesi) dari Assyam, An Najm dll (Cita-cita)
  • Tema Materi/fisik (anatomi)

(Bukankah semua tema-tema itu adalah sifat-sifat yang pasti ada pada tiap diri manusia)5). Semua Variabel Al Quran jika kita kupas habis selalu pada merujuk pada manusia atau dengan kata lain juz adalah konsepsi kepribadian sesorang ini bisa kita urai dari semua variable al Quran , yang kemudian semua variable itu di tafsirkan makna simboliknya dari perpektif psikologi , seperti huruf dengan metode perubahan huruf (akan diuraikan terpisah) , sebagi contoh makna simbolik surat Al Quran An naml (semut) bagaimana sudut pandang psikologi mengurai carakter semut (semut di inteprestasikan mahlug social dan ulet) , dengan demikian bilamana didalam sutau juz ada surat an naml maka berdasarkan hasil peneletian membuktikan seseorang yang berjuz tersebut memiliki indikasi-indikasi ulet dan suka bersosial (nanti kita akan ambil sample apa benar konsepsi juz mengurai kepribadian seseorang )Dari Asumsi /teori diatas dapat didifinisikan secara mudah bahwa psikologi Al Quran yang merupakan salah satu aplikasi kelimuan dari hasil kajian MSFQ adalah makna yang terkandung dalam suatu konsepsi Juz diinteprestasikan dari sudut perspektif Psikologi

5. Metodelogi

Dalam mengurai /memapping kepribadian seseorang dari sudut pandang konsepsi juz adalah Mengidentifikasi keunikan perbedaan PQ. SQ, MQ (Emotion) , dan PQ (kelemahan dan potensi anatomi ) hal ini sejalan dengan konsepsi psikologi Dalam terminologi Qur’aniyah, struktur yang dianut oleh filosof-filosof psikologi islam sebagaiaman diurai diatas Untuk mendapatkan keunikan perbedaan sebagaiaman poin diatas (mapping) digunakan quisioner, selayaknya tes psikologi konvensional. Pertanyaan-pertanyaan kuisioner dirancang sedemikan rupa untuk dapat memapping / memotret perbedaan unik emapat komponen tersebut antara orang yang satu dengan orang yang lainnya.Langkah beriukutnya adalah mengokfirmasikan keunikan-keunikan kepribadian responden, bilamana keunikan itu mayoritas dinyatakan benar, maka psikolog al Quran dapat meninimalisir perbedaan yang semula ada 30 juz tinggal pada 3 tingkat akurasi atau sebaliknya yakni tingkat kesalahan dan

Untuk dapat mengkofirmasikan kepribadian dari 3 code / juz tersebut maka dimapping kembali dari 3 code/ juz keunikan – keunikan kepribadian dengan variable-varibel 4 komponen PQ,IQ, SQ dan MQ yang paling banyak mewakili kepribadian seseorang bersangkutan.

Untuk dapat memberikan penilaian apakah seseorang termasuk pada code/ juz tertentu maka kita uraikan semua potret jati diri (evaluasi dir) bilamana yang bersangkutan membenarkan bahwa kepribadiannya 70 % terwakili. Maka kita rekomandasikan sementara seseorang termasuk pada code tertentu.

Hasil dari penelitian yang telah kami laksanakan untuk 449 responden yang berasal dari berbagai kota dan dari berbagai kalangan profesi seperti karyawan,pengusaha,guru,dosen dokter dan mahasiswa, juga dari berbagai latar belakang pendididkan dari tingkat SD sampai S3 ternta yang menyatakan 80-90% = 79%, score 90-99= 11 % . Lainya dibawah 70-60. % Artiya dari uji statistic diatas jika asosiasikan ke nilai akademi minimal nilainya B atau A.

Uji Akurasi terakhir adalah bilmana seseorang sudah direkomandasikan termasuk juz/code tertentu dan kemudian yang bersangkutan membaca Al Quran pada Juz tersebut ternyta ada reaksi itulah yang paling benar, artinya ternyata kemutlakan ilmu manusia masih dibawah ketentuan tuhan juga, seperti kata dokter : bahwa secara medis mestinya pasien tidak akan bertahan lama, tapi kata sang dokter kembali, namun semuanya kami dokter tidak berani mendahului takdir tuhan.

Persamaan dan Perbedaan Out put yang dihasilkan Psikologi Al Quran dan Psikologi Konvensional

1) Kesamaan

* Sama – sama menggunakan metodelogi untuk melihat indikasi –indikasi mapping /memotret tipe/ kepribadian seseorang

* Sama-sama bertujuan Evaluasi diri

Keunggulan Psikologi Al Quran dari konvensional

2). Perbedaan

Psikologi Al Quran tidak bersifat menjustifikasi mutlak karena dalam teori psikologi Al Quran mengisyaratkan lampaui Juz mu dengan membaca Al Quran atau istilah kami adalah recharge dirimu dengan membaca Juz Al Quran bersangkutan agar terecovery kembali pada fitrah.

* Kecepatan dan Akurasi hasil mapping, penelitin membuktikan lebih unggul psikologi Al Quran

* Psikologi Al Quran dapat mengurai /memotret kepribadian seseorang lebih universal ( IQ, PQ, SQ, EQ,) bukan hanya kecenderungan tingkah laku saja, sebagimana yang dihasilkan dari hasil uji tes pskologi konvensional.

5. Kesimpulan/ penutup

Dari uraian-uraian diatas maka disimpulkan bahwa psikologi Al Quran memenuhi persyratan ilmiah karena psikologi al Quran memiliki dasar teori/ hipotesis , metodelogi , kesimpulan /out put dan terakhir manfaat. Bilamana kesimpulan ini sementara disepakati dan untuk mempertegas dan mendetailkan keilmiahannya maka perlu mendapat kajian dari akademisi, sehingga diharapkan masa mendatang dapat dijadikan mata kuliah tersendiri dan tentunya sebagi alternatif bilamana alira-aliran psikologi barat sendiri yang diajarkan untuk seluruh Perguruan tinggi di Indonesia masih menjadi perdebatan nilai –nilai fitriati kemanusiaannya, dari sudut Al Quran memandang manusia sebagai yang membawa misi keilhaian / wakil Tuhan dan juga memiliki potensi yang hakiki yakni spiritual.kesimpulan terkahir bahwa psikologi konvensional maupun psikologi Al Quran adalah sebuah metode keilmuan yang tentunyanya sah-sah saja untuk terus-menerus dijadikan kajian.

Bandung 27 Mei 2008

Gusiful@yahoo.com

Kunjungi Juga Web studi Al Quran di http://www.studyialquran.co.nr